Kamis, 28 Oktober 2010

ketuban pecah dini (KPD)

Ketuban pecah terjadi alami pada proses persalinan. Bagaimana jika pecahnya lebih dini? Bisakah gejalanya dikenali?
“Dokter, saya mengeluarkan cairan dari vagina dan keluar begitu saja seperti mengompol,” keluh Ibu Nababan yang tengah hamil dengan nada khawatir.
Apa yang dialami Ibu Nababan bisa disebut sebagai ketuban pecah dini. Tidak mulas, tanpa sakit, tapi ada semacam cairan yang merembes keluar dari vagina. Keluarnya cairan tersebut tidak terasa dan tidak dapat ditahan oleh ibu hamil.
Menurut Dr. S.B. Wahyudi, Sp.OG, dari RS Husada, yang dimaksud ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan. Robeknya kantung ketuban sebelum waktu melahirkan tiba memang sulit diketahui gejalanya. Yang pasti, banyak akibat yang ditimbulkan dari pecahnya ketuban dini ini.
FUNGSI
Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ini dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus.
Pada kehamilan, air ketuban ini berguna untuk mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi dari “lingkungannya”. “Air ketuban pun membuat janin bisa bergerak dengan bebas ke segala arah, tidak ada kompresi terhadap janin sehingga dapat berkembang dengan baik,” ujar Wahyudi.
Kecuali itu, air ketuban dapat menyebarkan tekanan bila terjadi trauma, juga sebagai penyangga terhadap panas dan dingin. Pada saat proses persalinan, air ketuban memberikan kekuatan mengejan sehingga serviks dapat membuka, membersihkan jalan lahir karena mempunyai kemampuan sebagai desinfektan, dan sebagai pelicin saat kelahiran.
Dokter pun bisa mendeteksi janin melalui cairan ketuban ini. Dari mulai mendeteksi jenis kelamin, kematangan paru-paru janin, golongan darah serta rhesus, dan kelainan kongenital (bawaan), susunan genetiknya, dan sebagainya. Cara mendeteksinya dengan mengambil cairan ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui dinding perut ibu.
Jumlah cairan ketuban ini beragam. “Normalnya antara 1 liter sampai 1,5 liter,” jelas lulusan FK Universitas Diponegoro, Semarang. Bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5 liter. Cairan ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan organik. Jika dilihat lebih teliti terdapat lanugo (rambut halus janin) dan verniks caseosa(sel-sel epitel dan lemak pada kulit bayi).
Janin meminum cairan ketuban ini, sehingga terjadi refleks menelan dan bernapas sejak dini. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau 1 persen dari seluruh volume dalam tiap jam. “Jika janin tidak menelan air ketuban, maka volumenya bisa banyak,” jelas Wahyudi.
Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya produksi air ketuban berlebihan (hidramnion). Hal tersebut terjadi karena adanya cacat pada bayi, misalnya kepala yang tidak terbentuk. Penambahan air ketuban ini bisa mendadak dalam beberapa hari atau secara perlahan-lahan. “Terkadang pada kehamilan yang post mature (lebih dari usia kehamilan) akan terjadi pengurangan air ketuban, karena terjadi resorbsi yang lebih banyak pada bayi,” jelas Wahyudi.
Pemeriksaan air ketuban dilakukan berbarengan dengan persalinan, merasakan kontraksi pertamanya dalam waktu 12 jam, sebagian dalam waktu 24 jam tapi ada juga yang lebih lama sampai tibanya persalinan.
Ciri-cirinya antara lain terjadi pengeluaran cairan mendadak disertai bau yang khas, berbeda dengan bau air seni. Alirannya tidak deras keluar, kecuali bila ibu hamil dalam posisi berbaring. Karena ketika ibu hamil berjalan atau duduk, kepala janin cenderung menutupi muara rahim seperti sumbat botol. Selain itu, juga karena tidak ada kontraksi yang mendorong keluarnya cairan tersebut. Untuk lebih memastikan bahwa itu adalah air ketuban, dilakukan dengan tes ferning atau tes nitrazine.
Pada umumnya, menurut Wahyudi, ada dua macam kemungkinan ketuban pecah dini, yaitu premature rupture of membrane dan preterm rupture of membrane. Gejalanya sama, yaitu keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. “Baru setelah itu akan terasa sakit karena adanya kemungkinan kontraksi,” jelas Wahyudi.
Robeknya kantung ketuban biasanya terjadi seusai trauma, misalnya ibu hamil terjatuh atau terbentur di bagian perut. Ketuban pecah dini juga bisa terjadi karena mulut rahim yang lemah sehingga tidak bisa menahan kehamilan.
Bisa juga karena ketegangan rahim yang berlebihan, seperti kehamilan ganda atau hidramnion, kelainan letak janin seperti sungsang atau melintang, atau kelainan bawaan dari selaput ketuban. Bisa pula karena infeksi yang kemudian menimbulkan proses biomekanik pada selaput ketuban sehingga memudahkan ketuban pecah.
Namun, adakalanya hanya terjadi kebocoran kantung ketuban. Yang terjadi, cairan ketuban merembes sedikit demi sedikit, tanpa disadari oleh si ibu hamil. Akibatnya, cairan ini makin berkurang jumlahnya. Bahkan, menjadi habis. Si ibu baru merasakan perih jika si janin bergerak.
AKIBAT YANG TIMBUL
Pemeriksaan dokter akan menentukan apakah janin masih “aman” untuk tetap tinggal di dalam rahim atau sebaliknya. Umumnya setelah ketuban pecah, dokter akan memantau kondisi ibu dan janin. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih, berarti keadaan janin masih baik. “Ibu hamil bisa mempertahankan kehamilannya,” jelas Wahyudi.
Langkah selanjutnya dilakukan terapi. Jika kehamilan kurang dari 38 minggu akan dilakukan metode konservatif. Ibu hamil diwajibkan istirahat, dibantu dengan pemberian obat-obatan yang tidak menimbulkan kontraksi, biasanya melalui infus.
Bila si bayi belum cukup besar, dokter akan memberikan obat-obatan untuk mematangkan paru-parunya agar jika terpaksa dilahirkan, janin sudah siap hidup di luar rahim ibunya. Kecuali itu, ibu pun akan diberi antibiotika untuk mencegah infeksi.
Umumnya cara ini berhasil dilakukan. Melalui bed rest, air ketuban dicegah keluar dalam jumlah lebih banyak. Sementara itu, lapisan kantung yang sebelumnya terbuka pun akan menutup kembali. Cairan ketuban akan dibentuk kembali oleh amnion, sehingga janin bisa tumbuh lebih matang lagi.
Sebaliknya, bila jumlah air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan berisiko asfiksia. Perlu diketahui, air ketuban berwarna putih jernih. Jika air ketuban berwarna hijau, bisa membahayakan janin. Hal semacam itu yang biasanya membuat persalinan dipercepat, baik persalinan alami lewat vagina maupun operasi Caesar. Karena jika kehamilan diteruskan justru akan membahayakan keduanya, ibu dan janin. Bukan tidak mungkin justru berakhir dengan kematian.
Melihat akibatnya yang tidak ringan, segeralah ke dokter jika dicurigai ketuban pecah. Begitu pula jika mengeluarkan cairan yang tidak diketahui penyebabnya. Apa pun juga, bantuan medis amat diperlukan dalam kondisi seperti itu.
Dedeh Kurniasih. Foto : Rohedi (nakita)
Menghadapi Ketuban Pecah Dini
Pemeriksaan Rutin
Lakukan pemeriksaan paling sedikit 3 kali dalam satu kehamilan. Pemeriksaan 16 minggu, 28 minggu, dan 32 minggu. Dengan pemeriksaan yang baik, tumbuh kembang janin dalam rahim dapat terdeteksi. Begitu pun banyak sedikitnya air ketuban dapat dideteksi.
Segera ke Dokter
Jika terdapat tetesan atau aliran cairan dari vagina, segera periksa ke dokter.
Hindari Infeksi
Usahakan daerah vagina selalu bersih untuk menghindari infeksi. Bersihkan selalu daerah ini dari arah depan ke belakang. Jangan sekali-kali melakukan dengan gerakan sebaliknya.
“Puasa”
Untuk sementara waktu, hindari melakukan hubungan seksual bila ada indikasi yang menyebabkan ketuban pecah dini, seperti mulut rahim yang lemah.
Istirahat
Istirahatlah sesuai anjuran dokter. Jangan merasa diri wanita super dengan melakukan semua kegiatan. Ingatlah, setiap kehamilan selalu berbeda. Jika Anda melihat teman lain tetap “perkasa” saat hamil, Anda tidak harus menjadi demikian.
Menjaga Kebersihan
Bila cairan ketuban merembes, gunakanlah pembalut yang dapat menyerap air ketuban. Pada minggu-minggu terakhir kehamilan sebaiknya gunakan pembalut tipis pada celana dalam agar membuat Anda merasa bersih dan segar. Sebab, pada umumnya pengeluaran cairan dari vagina akan lebih banyak. Penggunaan pembalut ini pun berguna untuk memudahkan Anda membedakan cairan ketuban dengan cairan lain dari bau serta warnanya.

distosia bahu


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setelah kelahiran kepala, akan terjadi perputaran lagi paksi luar yang menyebabkan kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang. Bahu pada umumnya akan berada pada sumbu miring (oblique) dibawah ramus publis. Dorongan saat ibu mengedan akan menyebabkan bahu depan (anterior) berada dibawah pubis. Bila bahu gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring panggul dan tetap berada pada posisi anterior posterior, pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis.

Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul, kegagalan bahu untuk “melipat” kedalam panggul (misal pada makrosomia) disebabkan oleh fase aktif dan persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II sebelum bahu berhasil melipat masuk kedalam panggul.
Janin besar adalah bila berat badan melebihi dari 4000 gram. Frekuensi bayi yang lahir dengan badan lebih dari 4000 gram adalah 5,3 % dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4 %. Pernah dilaporkan berat bayi lahir pervaginam 10,8 – 11,3 Kg (Lewellpyn, 2001).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar pembaca dapat mengetahui tentang persalinan yang patologis khususnya persalinan dengan distosia bahu dan dapat mengetahui cara menangani bila mendapatkan kasus distosia bahu.
2. Tujuan Khususa. Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang distosia bahu
b. Agar tidak terjadi kesalahan dalam mendiagnosis suatu tindakan
c. Agar dapat melakukan segera dalam penanganannya.
C. Manfaat PenulisanBagi peneliti / mahasiswa
- Meningkatkan pengetahuan dan teori serta praktek
- Mahasiswi bisa lebih kompeten dalam memberi asuhan kebidanan
Bagi Petugas– Mengurangi angka kematian maternal dan neonatal
- Mendeteksi dini kemungkinan adanya penyulit / masalah dalam persalinan
Bagi Ibu / masyarakat
- Meningkatkan kesadaran diri terhadap ibu agar memeriksakan dirinya secara rutin pada waktu kehamilan agar dapat mengetahui adanya komplikasi pada ibu dan janinnya.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. DefenisiDistosia ialah kesulitan dalam jalannya persalinan atau dapat didefenisikan Distosia ialah persalinan atau abnormal yang timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan lima faktor persalinan, yaitu :
  1. Persalinan disfungsional akibat kontraksi uterus yang efektif atau akibat upaya mengedan ibu (kekuatan power).
  2. Perubahan struktur pelvis (jalan lahir / passage)
  3. Sebab-sebab pada janin, meliputi kelainan presentasi atau kelainan posisi, bayi besar dan jumlah bayi (penumpang/passenger).
  4. Posisi ibu selama persalinan dan melahirkan
  5. Respons psikologi ibu terhadap persalinan yang berhubungan dengan pengalaman, budaya dan warisannya sistem pendukung.
Dalam kepustakaan tercatat ada janin yang dapat dilahirkan secara pervaginam tetapi meninggal yaitu seberat 11,3 Kg (Belcher) dan 11 Kg (Moss). Dan janin yang lahir dan hidup tercatat seberat 10,8 Kg (Barnes) tetapi anak ini hanya hidup kira-kira 11 jam (Rustam, 1998).
B. Klasifikasi
Distosia karena kelainan tenaga
Distosia karena kelainan letak serta bentuk janin.
Distosia karena kelainan panggul
Distosia karena kelainan traktus genitalis (Hanifah, 2006).
C. EtiologiFaktor-faktor penyebab dari Distosia bahu bermacam-macam antara lain : kehamilan postern, paritas wanita hamil dengan diabetes melitus dan hubungan antara ibu hamil yang makannya banyak bertambah besarnya janin masih diragukan.
Adapun penyebab lain dari Distosia bahu, yaitu :
  1. Kehamilan postern
  2. Wanita-wanita yang habitus indolen
  3. Anak-anak berikutnya selalu lebih besar dari anak terdahulu
  4. Orang tua yang besar
  5. Eritroblastosis
  6. Diabeter Melitus
D. Diagnosis
Menentukan apakah bayi besar atau tidak kadang-kadang sulit. Hal ini dapat diperkirakan dengan cara :
  1. Keterunan atau bayi yang lahir terdahulu besar dan sulit melahirkan dan adanya diabetes melitus
  2. Kenaikan berat badan yang berlebihan tidak oleh sebab lainnya (eodem dan sebagainya)
  3. Pemeriksaan teliti tentang disproporsi Sefalo atau Feto-pelvik dalam hal ini dianjurkan untuk mengukur kepala bayi dengan ultrasonografi
  4. Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tetap berada dekat vulva
  5. Tarikan kepala gagal melahirkan bahu yang terperangkap dibelakang simfisi pubis.
E. PrognosisPada panggul normal janin dengan berat badan kurang dari 4500 gram pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Kesukaran dapat terjadi karena kepala yang besar atau kepala yang lebih keras (pada post maturitas) tidak dapat memasuki pintu atas panggul atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul. Bahu yang lebar selain dijumpai pada janin besar juga dijumpai pada anensefalus. Apabila kepala anak sudah lahir tetapi kelahiran bagian-bagian lain macet karena lebarnya bahu, janin dapat meninggal akibat asfiksia. Menarik kepala kebawah terlalu kuat dalam pertolongan melahirkan bahu yang sulit dapat berakibat perlukaan pada nervus brokhialis & muskulus sternokleidomastoidelis.
F. Komplikasi
1. Pada Ibu
a. Partus lama yang sering kali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil, dapat menimbulkan dehirasi serta asidosis dan infeksi intrapartum.
b. Dengan his yang kuat, sedang janin dalam jalan lahir tertahan, dapat menimbulkan regangan segmen bawah uterus dan pembentukan lingkaran retraksi patologis (Bandl).
c. Dengan persalinan yang tidak maju karena disproporsi sefalopelvik, jalan lahir pada suatu tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul.
2. Pada Bayi1. Partus lama dapat meningkatkan kematian perinatal apalagi jika ditambah dengan infeksi intrapartum.
b. Propalus funikuli, apabila terjadi mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin dan memerlukan kelahirannya dengan segala apabila ia masih hidup.
c. Dengan adanya disproporsi sefalopelvik kepala melewati rintangan pada panggul dengan mengadakan moulge.
d. Selanjutnya tekanan oleh promontarium atau kadang-kadang oleh simfisis pada panggul picak menyebabkan perlukaan pada jaringan diatas tulang kepala janin, malahan dapat pula menimbulkan fraktur pada os parietalis (Hanifah, 2002).
G. Penanganan1. Pada kesukaran melahirkan bahu dan janin hidup dilakukan episiotomi yang cukup lebar dan janin diusahakan lahir atau bahu diperkecil dengan melakukan kleidotomi unilateral atau bilateral.
2. Dalam posisi ibu berbaring terlentang, mintalah ia untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya. Mintalah bantuan dua orang asisten untuk menekan fleksi kedua lututnya ibu ke arah dada.
3. Dengan memakai sarung tangan yang telah didisinfektankan tingkat tinggi
Lakukan tarikan yang kuat dan terus menerus ke arah bawah pada kepala janin untuk menggerakkan bahu depan dibawah simfisi pubis.
Catatan : Hindari tarikan yang berlebihan pada kepala yang dapat mengakibat trauma pada pleksus brakhralis.
Mintalah seseorang asisten untuk melakukan tekanan secara srimultan kearah bawah pada daerah supra pubis untuk membantu persalinan bahu.
Catatan : jangan lakukan tekanan fundus. Hal ini dapat mempengaruhi bahu lebih lanjut dan dapat mengakibatkan ruptura uteri.
4. Jika bayi masih belum dapat dilahirkan :
- Pakailah sarung tangan yang telah didisinfektan tingkat tinggi, masukkan tangan kedalam vagina.
- Lakukan penekanan pada bahu yang terletak didepan dengan arah sternum bayi untuk memutar bahu dan mengecilkan diameter bahu.
- Jika diperlukan, dilakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah sternum.
5. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan setelah dilakukan tindakan diatas
- Masukkan tangan kedalam vagina
- Raih humerus dari lengan belakang dan dengan menjaga lengan tetap fleksi pada siku, gerakkan lengan ke arah dada.
6. Jika semua tindakan di atas tetap tidak dapat melahirkan bahu, pilihan lain adalah :
- Patahkan klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan bahu depan.
- Lakukan tarikan dengan mengait ketiak untuk mengeluarkan lengan belakang (Ida Bagus, 2001)
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
  • Distosia adalah kesulitan dalam jalannya persalinan
  • Klasifikasi Distosia bahu
  • Distosia karena kelainan tenaga
  • Distosia karena kelainan tenaga
  • Distosia karena kelainan letak serta bentuk janin.
  • Distosia karena kelainan panggul
  • Distosia karena kelainan traktus genitalis.
Penyebab
  • Kehamilan postern
  • Wanita-wanita yang habitus indolen
  • Anak-anak berikutnya selalu lebih besar dari anak terdahulu
  • Orang tua yang besar
  • Eritroblastosis
  • Diabeter Melitus
Diagnosis dapat ditegakkan dengan :
  • Anamnesis
  • Pemeriksaan
Prognosis
Pada panggul normal janin dengan berat badan 4000 – 4500 gram, tidak akan menimbulkan kesukaran persalinan. Distosia akan diperoleh bila janin lebih besar dari 4500 – 5000 gram.
Penanganan
Dapat dilakukan dengan episiotomi dan penanganan media yang lain.
B. Saran
1. Ibu Hamil
Diharapkan kepada ibu selama dalam masa kehamilan agar melakukan kunjungan / pemeriksaan kehamilan, untuk mengetahui perubahan berat badan pada ibu dan bayi bertambah atau tidak sesuai dengan usia kehamilan ataupun ibu yang mengalami riwayat penyakit sistematik. Agar nantinya bisa didiagnosa apakah ibu bisa bersalin dengan normal atau tidak.
2. Petugas KesehatanDiharapkan kepada tenaga kesehatan khususnya bidan agar mampu menekan AKI/AKB dengan cara mengurangi komplikasi-komplikasi yang terjadi pada ibu hamil.
3. PenulisAgar dapat meningkatkan pengetahuan maupun wawasan pembelajaran serta pengalaman dalam praktek asuhan kebidanan. Khususnya mengenai asuhan kebidanan ibu bersalin dengan komplikasi seperti distosia bahu.
4. Institusi PendidikanDiharapkan dapat menjadi bahan kajian maupun referensi dalam menambah khazanah perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA
http://onlinelibraryfree.com
Llwenllyn – Jones, Derek. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Edisi 6 Jakarta : Hipokrates, 2001
Mochtar Rustam, (1998) Sinopsis Obstetri 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta: 2006
Winkjosastro, Hanifah. Ilmu Kebidanan. Edisi 3 Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : 2006.
Winkjosastro, Hanifah. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : 2002.
Manuaba, Ida Bagus Gde. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstertri Ginekologi dan Keluarga Berencana, EGC. Jakarta : 2005.